Oleh: Ardhana Salemba
Di kaki perbukitan Cilautereun, saat kabut turun lebih cepat dari biasanya, warga mulai gelisah. Bukan tanpa alasan beberapa malam terakhir, suara langkah kaki asing terdengar di pematang sawah, lumbung padi dibongkar, dan ayam-ayam lenyap tanpa jejak. Gerombolan rampok yang lama jadi cerita lama, kini benar-benar kembali.
Di tengah keresahan itu, muncul satu nama yang kembali disebut-sebut: Haji Abun.
Beliau bukan sekadar tokoh agama di kampung. Di masa mudanya, Haji Abun dikenal sebagai pendekar yang disegani. Ilmunya dalam, bukan hanya soal kitab, tapi juga soal menjaga diri dan orang lain. Namun, sejak pulang dari tanah suci, ia memilih hidup tenang hingga malam itu datang.
Malam pekat, angin berdesir pelan. Dari kejauhan, terlihat bayangan hitam bergerak cepat di antara pohon pisang. Enam orang, bersenjata golok dan linggis, menyelinap menuju rumah-rumah warga.
Belum sempat mereka beraksi, suara berat terdengar dari kegelapan.
“Kalau niatnya buruk, lebih baik pulang sekarang.”
Para rampok terkejut. Dari balik kabut, Haji Abun melangkah pelan, sarung tersampir, tongkat kayu di tangan. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam.
“Orang tua... minggir saja. Ini bukan urusanmu,” bentak salah satu rampok.
Haji Abun tersenyum tipis. “Justru ini urusanku. Ini kampungku.”
Tanpa banyak kata, salah satu rampok maju menyerang. Goloknya melesat cepat namun dengan gerakan ringan, Haji Abun menangkis menggunakan tongkatnya. Bunyi “tak!” memecah malam.
Satu lawan satu berubah jadi enam lawan satu.
Namun yang terjadi justru di luar dugaan. Gerakan Haji Abun tenang, hemat, tapi tepat. Setiap serangan lawan seolah sudah ia baca sebelumnya. Tongkatnya bukan sekadar alat, tapi perpanjangan dirinya. Satu per satu rampok terpental, jatuh ke tanah, kehilangan keseimbangan.
Ada yang mencoba menyerang dari belakang tapi Haji Abun berputar cepat, mengunci tangan lawan, lalu menjatuhkannya tanpa melukai parah.
“Pergi... sebelum kalian menyesal lebih jauh,” katanya tegas.
Namun pemimpin rampok, yang sejak tadi mengamati, justru maju dengan amarah.
“Kami tidak takut!”
Ia menyerang dengan kekuatan penuh. Pertarungan pun menjadi lebih sengit. Untuk pertama kalinya, Haji Abun mundur satu langkah.
Angin tiba-tiba bertiup lebih kencang.
Dalam satu momen cepat, Haji Abun menghentikan serangan lawan dengan pukulan tongkat ke pergelangan tangan golok jatuh. Dengan satu dorongan ringan, pemimpin rampok itu tersungkur.
Sunyi.
Tak ada lagi yang berani bergerak.
Akhirnya, gerombolan itu mundur. Mereka kabur ke dalam gelap, meninggalkan rasa takut yang kini justru berbalik pada diri mereka sendiri.
Warga yang sejak tadi mengintip dari balik jendela mulai keluar. Ada rasa haru, kagum, sekaligus lega.
“Haji... Abun...,” bisik seseorang.
Namun beliau hanya mengangguk pelan.
“Jaga kampung ini bersama-sama. Jangan tunggu bahaya datang baru bersatu.”
Setelah itu, ia berjalan kembali ke rumahnya, seolah tak terjadi apa-apa.
Sejak malam itu, Cilautereun kembali tenang. Tapi cerita tentang Haji Abun menyebar lebih luas dari sebelumnya bukan hanya sebagai tokoh agama, tapi sebagai penjaga kampung yang berdiri di garis depan saat semua orang diliputi ketakutan.
Dan konon, sampai sekarang, jika malam terasa terlalu sunyi di Cilautereun… orang-orang percaya, Haji Abun masih terjaga.

Posting Komentar