Oleh: Ardhana Salemba
Angin malam berhembus pelan di pesisir. Ombak bergulung seperti biasa, tapi suasana malam itu terasa agak... lain. Nelayan bernama Masduki, yang terkenal santai dan agak bandel, tetap nekat melaut sendirian.
“Ah, cuma angin doang. Paling juga ikan lagi pada rapat malam,” gumam Masduki sambil menyalakan lampu kapal kecilnya.
Masduki memang bukan nelayan biasa. Dia sering ngobrol sendiri di laut, kadang nyanyi dangdut, kadang curhat ke ikan. Tapi malam itu, ada yang ikut mendengarkan.
Di tengah laut yang mulai berkabut, tiba-tiba terdengar suara:
“Huuuu… huuuu…”
Masduki berhenti mendayung.
“Wah, anginnya pake efek suara segala. Keren juga ya sekarang.”
“Huuuu… Masdukiii…” suara itu kembali, kali ini lebih jelas.
Masduki menoleh ke belakang. Di ujung perahu… berdiri sesuatu yang putih, terikat dari kepala sampai kaki. Pocong.
Masduki diam sebentar. Lalu berkata santai,
“Lah, penumpang baru ya? Nggak bilang-bilang naiknya.”
Pocong itu kaget. Biasanya orang langsung pingsan.
“Kamu… nggak takut?”
Masduki menggaruk kepala.
“Takut sih… tapi lagi nggak sempat. Lagi nyari ikan buat makan besok.”
Pocong itu malah mendekat sedikit.
“Aku ini hantu! Harusnya kamu lari!”
Masduki malah ngeluarin termos.
“Mau kopi? Ini kopi sachet, tapi rasanya premium.”
Pocong bengong. Dalam sejarah perhantuan, baru kali ini dia ditawari kopi.
Akhirnya mereka duduk—eh, maksudnya Masduki duduk, pocong melayang—sambil minum kopi di tengah laut.
“Aku dulu juga manusia…” kata pocong pelan.
“Wah, sama. Saya juga dulu bayi,” jawab Masduki serius.
Pocong menarik napas (walau sebenarnya nggak punya paru-paru).
“Aku meninggal belum lama. Kain kafanku belum dilepas. Jadi aku gentayangan.”
Masduki mengangguk.
“Berarti kamu ini belum move on ya.”
Pocong langsung baper.
“Iya! Aku belum siap ditinggal dunia!”
Masduki menepuk-nepuk bahu pocong… tapi tangannya malah tembus.
“Wah, sorry ya. Nggak kena.”
Malam makin larut. Anehnya, bukannya menakutkan, suasana malah jadi seperti sesi curhat.
Pocong mulai cerita panjang lebar. Tentang hidupnya, tentang mantannya yang nikah duluan, sampai tentang mimpinya yang belum tercapai.
Masduki mendengarkan sambil mancing.
“Ikan aja belum tentu dapat, kamu malah dapat pengalaman hidup,” kata Masduki.
Tiba-tiba joran Masduki bergerak keras.
“Woi! Dapet nih!” teriak Masduki.
Pocong ikut panik.
“Aku bantu! Aku bantu!”
Alih-alih membantu, pocong malah loncat-loncat di perahu, bikin perahu goyang hebat.
“WOI! Jangan lompat-lompat! Ini bukan trampoline!” teriak Masduki.
Akhirnya ikan lepas.
Mereka diam beberapa detik.
Masduki menatap pocong dengan wajah datar.
“Kamu… bantuannya minus.”
Pocong menunduk.
“Maaf… aku emang nggak berguna dari dulu…”
Masduki langsung nyengir.
“Eh, jangan sedih. Kamu ini spesial. Coba deh kamu bantu hal lain.”
“Apa?”
“Jadi lampu darurat.”
Pocong bingung.
“Hah?”
Masduki langsung menggantung pocong di tiang perahu.
“Putih terang gini, lumayan buat penerangan,” kata Masduki puas.
Anehnya… berhasil. Ikan mulai berdatangan karena cahaya.
Pocong yang tadinya sedih, malah mulai bangga.
“Aku… akhirnya berguna!”
“Iya, walau bukan sesuai jobdesc,” jawab Masduki.
Menjelang subuh, tangkapan Masduki penuh. Ia bersiap pulang.
Pocong turun pelan dari tiang.
“Terima kasih ya… kamu nggak takut sama aku.”
Masduki tersenyum.
“Takut itu wajar. Tapi kalau bisa diajak ngopi, ya ngapain takut?”
Pocong tertawa kecil (walau suaranya tetap “huuu huuu”).
“Kalau aku ketemu lagi… boleh ikut lagi?”
Masduki mengangguk.
“Asal jangan lompat-lompat lagi.”
Sejak malam itu, warga pesisir sering melihat perahu Masduki dengan “lampu putih aneh” yang kadang loncat-loncat kecil.
Dan Masduki?
Dia sekarang bukan cuma nelayan.
Dia juga… satu-satunya manusia yang punya “asisten pocong part-time” di laut.
Tapi tetap satu masalah:
Setiap curhat, si pocong selalu baper.
Dan Masduki selalu jawab:
“Udah… yang penting kita masih bisa ngopi.”

Posting Komentar