Oleh : Ardhana Salemba
Malam itu laut sedang tenang, tapi suasananya agak beda. Angin berhembus pelan, suara ombak seperti berbisik-bisik, dan langit cuma ditemani bulan setengah ngantuk. Masduki, seorang nelayan sederhana yang terkenal santai dan agak nyeleneh, tetap berangkat melaut seperti biasa.
“Rezeki nggak boleh ditunggu, harus dijemput… walau yang jemput kadang serem,” gumam Masduki sambil mendorong perahunya.
Ia mulai menebar jala. Sekali lempar, kosong. Dua kali lempar, nihil. Tiga kali… masih zonk.
“Lah, ikan pada rapat RT ya malam ini?” keluhnya.
Tiba-tiba… byurrr!
Air di samping perahunya beriak cukup besar.
Masduki langsung berdiri.
“Wah, ini pasti ikan gede!”
Ia menarik jala dengan penuh semangat. Tapi aneh… beratnya bukan main, tapi nggak berasa seperti ikan.
Pelan-pelan… jala itu terangkat…
Dan…
“Mas… nyari ikan ya…?”
Masduki membeku.
Di dalam jala, bukan ikan. Tapi seorang wanita berambut panjang, wajah pucat, dan baju putih basah kuyup.
“Mbak… sampeyan nyasar ya?” tanya Masduki dengan polos.
Wanita itu tersenyum tipis.
“Aku… Kunti…”
Masduki mengangguk santai.
“Oh, Mbak Kunti. Saya Masduki. Biasanya kalau kenalan gini tukeran nomor WA, Mbak.”
Hening.
Kunti sedikit bingung. Ini nelayan kok nggak takut?
“Kamu… nggak takut?” tanya Kunti, suaranya agak gema.
Masduki garuk kepala.
“Takut sih… tapi lebih takut kalau nggak dapet ikan. Di rumah istri saya lebih serem, Mbak.”
Kunti: “….”
Masduki lalu duduk lagi santai.
“Mbak Kunti, bantuin dong. Dari tadi saya nggak dapet ikan. Mbak kan sering muncul di laut, tahu spot bagus nggak?”
Kunti yang awalnya mau menakuti… malah diajak kerja sama.
“Ada… di sebelah sana banyak ikan…” jawabnya pelan sambil menunjuk.
“Wah mantap! Mbak Kunti baik banget. Biasanya yang saya temui malah minta tumbal,” kata Masduki.
“Enggak… aku lagi diet… nggak makan manusia dulu…” jawab Kunti.
Masduki langsung semangat. Ia pindah ke lokasi yang ditunjuk. Sekali lempar jala…
BYURRR!
Tarik…
PENUH IKAN!
“MasyaAllah! Mbak Kunti, sampeyan keren!”
Kunti tersenyum… agak bangga.
Sejak malam itu, Masduki dan Kunti jadi “partner kerja”.
Masduki cari ikan, Kunti jadi penunjuk lokasi.
Tapi ada satu syarat dari Kunti…
“Mas… kalau dapat ikan… aku minta sedikit ya…”
Masduki mengangguk.
“Boleh. Mau ikan apa?”
Kunti menjawab pelan…
“Ikan asin…”
Masduki melongo.
“Mbak… sampeyan hantu, tapi seleranya anak kos banget.”
Sejak saat itu, warga desa sering heran.
Masduki selalu pulang dengan ikan melimpah… sambil kadang terdengar ngobrol sendiri di perahu.
Yang mereka nggak tahu…
Di belakang Masduki, ada Mbak Kunti yang lagi ngemil ikan asin sambil senyum-senyum.
Dan kalau Masduki lagi nggak bawa ikan asin…
Suara di tengah laut akan terdengar pelan…
“Mas… aku laper…”
Posting Komentar