Malam itu, angin laut selatan berhembus pelan tapi dinginnya sampai ke tulang. Ombak bergulung-gulung seperti lagi marah sama kehidupan. Di atas perahu kayu kecil, seorang nelayan bernama Masduki sedang sibuk merapikan jaring sambil bersenandung lagu dangdut yang nadanya entah ke mana.
“Kalau rezeki nggak datang, ya minimal ikan lewat lah…,” gumam Masduki sambil menatap laut yang gelap gulita.
Masduki ini orangnya santai. Terlalu santai malah. Katanya sih, dia pernah ketemu hantu, tapi malah diajak ngobrol sampai hantunya yang kabur duluan.
Tiba-tiba…
“Masdukiiiii…”
Suara perempuan melengking terdengar dari arah belakang perahu.
Masduki berhenti nyanyi. Diam. Pelan-pelan dia nengok.
Di ujung perahu, berdiri sosok perempuan berbaju putih, rambut panjang menutupi wajah, melayang sedikit di atas air.
Kalau orang lain mungkin sudah pingsan. Tapi Masduki malah ngelirik santai.
“Oh… Mbak Kunti ya?” katanya ringan.
Hantu itu terdiam.
“Masdukiiiii… aku mati… tidak tenang…” suara itu kembali, lebih dramatis.
Masduki menghela napas.
“Lah mbak, duduk dulu napa… dari tadi berdiri terus, pegel itu kaki, walaupun nggak napak.”
Si kunti langsung bingung. Baru kali ini dia ditawarin duduk.
“Aku… aku datang untuk menakutimu…” katanya agak ragu.
Masduki malah ngambil termos.
“Teh anget mau? Anginnya dingin loh ini.”
Kunti makin bingung.
“Kenapa kamu tidak takut?!”
Masduki nyengir.
“Takut itu kalau utang jatuh tempo, mbak. Kalau hantu mah… ya paling juga curhat.”
Kunti langsung terdiam. Beberapa detik kemudian… dia malah duduk beneran di pinggir perahu.
“Sebenernya… aku capek…” kata kunti pelan.
Masduki langsung serius.
“Nah kan, saya bilang juga. Cerita aja mbak, siapa tau lega.”
Dan dimulailah sesi curhat tengah laut.
“Dulu aku ditinggal pas lagi sayang-sayangnya…” kata kunti dengan suara lirih.
Masduki manggut-manggut.
“Classic banget mbak… paket lengkap.”
“Terus aku mati… jadi gentayangan…” lanjutnya.
Masduki nyeletuk,
“Berarti statusnya sekarang… single tapi horor ya?”
Kunti melotot.
“Masduki!”
Masduki ketawa.
“Iya iya maaf… lanjut.”
Tiba-tiba ombak besar datang menghantam perahu. Kunti kaget sampai pegangan ke Masduki.
“Masduki! Aku takut!”
Masduki bengong.
“Lah… mbak kan hantu?”
“Iya… tapi tetap kaget kalau ombak!”
Masduki garuk kepala.
“Hantu rasa manusia…”
Beberapa saat kemudian, suasana jadi agak tenang. Kunti mulai nyanyi lirih lagu sendu. Tapi suaranya fals.
Masduki langsung nyeletuk,
“Mbak… kalau boleh jujur… suaranya lebih serem dari penampilannya.”
Kunti langsung manyun.
“Kamu jahat…”
Masduki buru-buru,
“Eh bukan gitu… maksud saya unik! Iya, unik!”
Kunti tiba-tiba nangis.
“Masduki… selama ini tidak ada yang mau dengar aku…”
Masduki jadi panik.
“Lho jangan nangis mbak, nanti lautnya banjir lagi, saya belum lunas cicilan perahu!”
Kunti berhenti nangis.
“Kamu ini… aneh banget ya…”
Masduki nyengir.
“Daripada serem terus, capek mbak. Hidup—eh maksudnya… ‘tidak hidup’ juga harus santai.”
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara lain… lebih menyeramkan.
“Masdukiiiiii…”
Masduki nengok.
“Wah, ada temennya mbak tuh?”
Kunti langsung berdiri.
“Itu senior saya…”
Masduki langsung sigap.
“Senior? Waduh, saya belum siap ketemu yang lebih serem. Mbak, tolong bilang saya lagi cuti ketakutan ya!”
Kunti malah ketawa. Iya, ketawa. Suara tawa kunti yang biasanya menyeramkan sekarang malah terdengar seperti orang habis nonton komedi.
Akhirnya, sebelum pergi, kunti berkata pelan,
“Terima kasih ya, Masduki… kamu manusia pertama yang tidak takut… malah ngajak aku ngobrol…”
Masduki mengangguk.
“Sama-sama mbak. Lain kali kalau mau nakutin orang, latihan dulu ekspresi sama nyanyi… biar total.”
Kunti menghilang perlahan.
Masduki kembali sendirian di tengah laut.
Dia menarik napas panjang, lalu berkata,
“Ya ampun… bukannya dapat ikan… malah dapat teman curhat.”
Tak lama kemudian, jaringnya bergerak.
“Wah! Dapet nih!” teriak Masduki semangat.
Dia tarik jaringnya… dan…
Isinya kosong.
Masduki terdiam.
Lalu dia menatap laut dan berkata,
“Yaudah deh… minimal tadi dapet pengalaman sama kunti. Lumayan… bisa jadi bahan cerita di warung kopi.”
Dan malam itu, di laut selatan yang katanya menyeramkan, justru terdengar suara tawa Masduki… sendirian… tapi bahagia..

Posting Komentar