Pernahkah kita merasa lebih mudah mengingat satu komentar buruk dibanding banyak pujian? Misalnya, dalam satu hari kita mendapat beberapa pujian dari teman atau guru, tetapi justru satu kritik kecil yang terus teringat. Hal ini ternyata bukan karena kita sengaja berpikir negatif, melainkan karena cara kerja otak manusia. Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai Negativity Bias, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih fokus pada hal-hal negatif dibandingkan hal positif. Psikolog Rick Hanson menjelaskan bahwa “otak manusia seperti velcro untuk pengalaman negatif dan teflon untuk pengalaman positif,” artinya hal buruk lebih mudah menempel dalam ingatan dibandingkan hal baik.
Jika melihat sejarah manusia, hal ini memang ada alasannya. Pada zaman dahulu, manusia harus lebih waspada terhadap bahaya, seperti ancaman hewan buas atau kondisi lingkungan yang berbahaya. Karena itu, otak manusia berkembang untuk lebih cepat menangkap dan mengingat hal negatif sebagai bentuk perlindungan diri. Sosiolog terkenal Emile Durkheim juga menekankan bahwa perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial di sekitarnya. Artinya, jika lingkungan terbiasa dengan kritik dan celaan, maka individu di dalamnya cenderung meniru kebiasaan tersebut.
Selain faktor otak, lingkungan juga memengaruhi kebiasaan ini, terutama dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia. Dalam beberapa situasi, mengkritik sering dianggap sebagai tanda kejujuran atau kecerdasan, sementara memberi pujian justru dianggap berlebihan. Di media sosial, hal ini semakin terlihat jelas, di mana komentar negatif sering lebih menarik perhatian dan lebih cepat menyebar. Penelitian dari Massachusetts Institute of Technology menunjukkan bahwa informasi yang memicu emosi kuat, termasuk yang bernuansa negatif, cenderung lebih cepat menyebar dibandingkan informasi positif.
Kebiasaan mencela juga bisa muncul karena emosi yang tidak tersalurkan dengan baik. Ketika seseorang merasa marah, iri, atau kecewa, ia cenderung melampiaskannya melalui kata-kata negatif kepada orang lain. Psikolog Daniel Goleman menjelaskan bahwa kemampuan mengelola emosi atau kecerdasan emosional sangat penting agar seseorang tidak mudah bereaksi secara negatif terhadap orang lain. Tanpa kemampuan ini, seseorang akan lebih mudah mencela daripada memahami.
Jika kebiasaan mencela terus dibiarkan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh orang lain, tetapi juga oleh diri sendiri. Kita bisa menjadi lebih mudah stres, sulit merasa bahagia, dan selalu fokus pada kekurangan. Sebaliknya, membiasakan diri untuk memberi pujian dapat meningkatkan hubungan sosial dan kesehatan mental. Psikolog Martin Seligman menyatakan bahwa fokus pada hal-hal positif dan memberikan apresiasi dapat meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan seseorang.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mulai mengubah kebiasaan ini. Kita bisa melatih diri untuk lebih fokus pada hal-hal baik, misalnya dengan membiasakan mencari dan menyebutkan kebaikan orang lain setiap hari. Selain itu, sebelum berbicara, kita bisa bertanya pada diri sendiri apakah perkataan tersebut bermanfaat atau justru menyakiti. Bagi orang tua, memberikan contoh sangat penting karena anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat dan dengar di rumah.
Pada akhirnya, kita semua memiliki pilihan dalam menggunakan kata-kata. Kita bisa menjadi orang yang mudah mencela, atau menjadi orang yang memberi semangat melalui pujian. Seperti yang sering ditekankan dalam pendekatan psikologi positif, satu pujian yang tulus dapat memberikan dampak besar bagi kepercayaan diri seseorang. Dunia ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi masih sangat membutuhkan lebih banyak orang yang saling menghargai dan menguatkan. Oleh karena itu, mari kita mulai dari hal kecil, yaitu membiasakan diri untuk lebih banyak memuji daripada mencela.
Posting Komentar