Malam itu, Pantai Cimari sedang tidak seperti biasanya. Angin berembus kencang, tapi anehnya bau yang tercium bukan bau garam laut, melainkan bau bakwan jagung yang baru matang.
Masduki, nelayan yang baru saja merapatkan perahunya di bibir Pantai Cimari setelah seharian melaut tanpa hasil, merasa perutnya keroncongan. Di kejauhan, ia melihat sebuah gerobak kayu dengan lampu petromax yang bergoyang-goyang ditiup angin.
"Tumben ada yang jualan di Pantai Cimari jam dua pagi," gumam Masduki sambil melangkah mendekat.
Di balik gerobak, berdiri seorang wanita berambut sangat panjang saking panjangnya hingga menyentuh pasir mengenakan daster putih yang terlihat agak kusam. Wajahnya tertutup rambut, tapi tangannya yang pucat terlihat sangat lincah membolak-balik gorengan di penggorengan yang minyaknya mendidih.
"Mbak, beli gorengannya. Lima ribu campur ya," kata Masduki, mencoba santai meski bulu kuduknya mulai merinding.
Wanita itu perlahan mendongak. Rambutnya tersibak sedikit, menampakkan wajah yang pucat pasi dengan mata hitam pekat dan... lubang dipunggung nya.
"Pakai cabai rawit... atau pakai kain kafan, Mas?" suara wanita itu melengking, disusul tawa khas: "Hi-hi-hi-hi-hi..."
Masduki tersentak. "Astaga! Kuntilanak!"
Mbak Kunti itu berhenti tertawa. Ia menaruh sodetnya dengan kesal. "Duh, Masduki! Jangan rasis dong! Iya, saya Kunti, tapi saya lagi cari sampingan. Ekonomi di alam gaib lagi sulit, Mas. Menyan mahal, sesajen sekarang isinya cuma nasi kucing. Ya saya jualan di Pantai Cimari ini biar lebih mandiri!"
Masduki yang awalnya mau lari, malah jadi penasaran. "Oalah, Mbak. Maaf, saya kaget. Tapi itu... punggung Mbak bolong, apa nggak takut kemasukan angin kalau jualan di tepi laut begini?"
"Ya makanya ini saya pakai koyo lima lembar di pinggiran lubangnya, Mas," jawab Mbak Kunti sambil menunjukkan punggungnya yang penuh tempelan koyo putih. "Lagian bolong ini berguna juga kalau minyak goreng habis, saya bisa naruh botol minyak di situ."
Masduki tertawa kecil, rasa takutnya mulai pudar diganti rasa lapar. "Ya sudah, Mbak. Mana gorengannya? Laper nih."
Mbak Kunti membungkus bakwan dan tahu isi menggunakan kertas koran bekas. Saat menyerahkannya ke Masduki, jarinya yang kuku-kukunya hitam panjang tak sengaja menyentuh tangan Masduki. Rasanya sedingin es batu.
"Ini Mas, lima ribu. Bonus tempe mendoan satu, soalnya Mas orang pertama yang nggak pingsan lihat saya jualan di Pantai Cimari."
Masduki mengeluarkan uang lima ribuan dari sakunya. Saat ia menyerahkannya, tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar. Lampu petromax padam seketika. Suasana jadi gelap gulita dan mencekam.
"Mbak? Mbak Kunti?" panggil Masduki gemetar.
Tiba-tiba, Mbak Kunti muncul tepat di depan wajah Masduki dengan mata melotot merah dan mulut penuh darah. "MASDUKIIIII...!!!" teriaknya parau.
Masduki jatuh terduduk, hampir pingsan. "Ampun, Mbak! Ampun!"
Mbak Kunti menyalakan korek api sambil nyengir. "Hi-hi-hi... bercanda, Mas! Biar dapet vibe horornya dikit. Lagian ini uangnya kurang seribu, Mas! Sekarang harga terigu naik!"
Masduki mengusap dadanya, napasnya tersengal-sengal. "Duh, Mbak! Hampir copot jantung saya. Ini, ini seribunya. Besok-besok kalau jualan nggak usah pakai jumpscare napa!"
"Ya maaf, Mas. Namanya juga branding," jawab Mbak Kunti sambil kembali menggoreng dengan santai.
Masduki pun pulang membawa gorengannya. Namun sesampainya di rumah, saat ia membuka bungkusan korannya, ternyata isinya bukan gorengan, melainkan kerikil laut dan potongan kain putih.
Di kejauhan, terdengar suara tawa melengking dari arah Pantai Cimari: "Hi-hi-hi-hi... Lupa saya Mas, kalau kunti nggak bisa pegang uang asli, hi-hi-hi!"
Masduki hanya bisa menghela napas panjang. "Sialan. Setan di Pantai Cimari kalau jualan nipunya pinter juga."
Kira-kira, menurutmu Masduki bakal berani balik lagi ke Pantai Cimari buat minta ganti rugi nggak?

Posting Komentar