Malam itu lebih gelap dari biasanya. Angin agak kencang, dan ombak mulai nggak bersahabat. Tapi Masduki tetap nekat melaut.
“Kalau nunggu cuaca bagus terus, ikan keburu resign semua,” katanya sambil mendayung perahu kecilnya.
Baru saja sampai di tengah laut, tiba-tiba…
duk… duk… duk…
Perahunya seperti diketuk dari bawah.
Masduki melongok.
“Siapa tuh? Kalau ikan, ketoknya sopan banget…”
DUK DUK DUK!!
Kali ini lebih keras.
Masduki mulai curiga.
“Ini ikan apa debt collector?”
Tiba-tiba…
BRUAAAK!
Sesuatu muncul dari air. Besar. Hitam. Berbulu. Matanya merah menyala.
Masduki terdiam.
Makhluk itu naik ke perahu sambil basah kuyup.
“Aku… GENDERUWO…” suaranya berat dan bergema.
Masduki mengangguk pelan.
“Oh… yaudah. Duduk dulu, basah tuh.”
Genderuwo: “…???”
Biasanya orang langsung pingsan atau lari, ini malah disuruh duduk.
“Kamu… nggak takut?” tanya Genderuwo sambil mendekat.
Masduki santai.
“Takut sih… tapi sampeyan kelihatan capek. Dari mana? Renang jauh ya?”
Genderuwo menarik napas.
“Iya… dari tadi muter-muter, nggak ada yang takut. Sekarang orang-orang pada cuek…”
Masduki malah kasihan.
“Wah, nasibnya sama kayak saya. Dari tadi nyari ikan juga nggak dapet-dapet.”
Mereka berdua diam sejenak. Suasana jadi… canggung.
Masduki lalu buka termos.
“Mau kopi, Pak… eh… Mas Genderuwo?”
Mata Genderuwo langsung berbinar.
“Ada kopi?”
“Ada. Kopi hitam. Tanpa gula, biar pahitnya terasa… kayak hidup,” jawab Masduki.
Mereka pun duduk berdua di atas perahu kecil… minum kopi di tengah laut.
Kalau ada orang lihat, pasti bingung:
Nelayan santai, sebelahnya makhluk besar berbulu lagi nyeruput kopi.
Setelah beberapa teguk, Genderuwo mulai cerita.
“Sebenarnya aku capek, Mas… kerjaanku nakut-nakutin terus. Nggak ada jenjang karier.”
Masduki mengangguk bijak.
“Coba ganti profesi, Mas. Jadi pemandu ikan kayaknya cocok.”
Genderuwo: “Hah?”
“Iya. Bantu saya cari ikan. Nanti kita bagi hasil. Halal, jelas, dan nggak perlu nakut-nakutin orang.”
Genderuwo mikir sejenak… lalu mengangguk.
“Boleh juga…”
Sejak saat itu, Genderuwo bantu Masduki.
Dengan tenaga besarnya, dia ngusir ikan-ikan ke arah jala.
Sekali lempar… langsung penuh!
“Wah, Mas! Ini baru kerja tim!” teriak Masduki.
Genderuwo senyum lebar, giginya kelihatan semua.
“Lebih enak begini daripada nakutin orang!”
Sejak malam itu, hasil tangkapan Masduki selalu melimpah.
Tapi ada yang aneh…
Kadang warga melihat perahu Masduki agak tenggelam sebelah…
Karena di ujung perahu, ada Genderuwo lagi duduk sambil bawa termos kopi sendiri.
Dan kalau kopi Masduki habis…
Akan terdengar suara berat di tengah laut…
“Mas… kopinya ditambah ya… kalau nggak… aku kembali ke profesi lama…”
Posting Komentar