Pagi itu, Lanang berdiri di ujung jalan tanah yang mengarah ke laut. Tas ransel di punggungnya terasa lebih berat dari biasanya, bukan karena isinya, melainkan karena keputusan yang mengantarnya sejauh ini. Angin pesisir Garut Selatan berhembus keras, membawa bau asin laut dan rasa asing yang langsung menyelinap ke dada. Di hadapannya, sebuah bangunan sekolah berdiri sederhana.
Di sinilah ia akan mengajar.
Di sinilah ia akan tinggal.
Di sinilah ia akan belajar tentang arti Indonesia yang sesungguhnya.
Lanang atau Nang, begitu keluarganya memanggil bukan tidak tahu apa yang ia tinggalkan. Ia meninggalkan rumah yang selalu ramai oleh tawa, meja makan yang tak pernah sepi, dan wajah-wajah yang selalu mendoakannya diam-diam. Malam sebelum berangkat, ibunya hanya berpesan singkat, “Kalau lelah, ingatlah kenapa kamu berangkat.” Ayahnya menepuk bahunya tanpa banyak kata. Sejak itu, Lanang tahu, perjalanannya bukan sekadar tugas, tetapi amanah.
Perjalanan menuju sekolah itu mengikis keyakinannya sedikit demi sedikit. Jalan berliku, hujan yang membuat tanah menjadi lumpur, perahu kecil yang harus melawan ombak. Beberapa kali ia menutup mata, bertanya dalam hati apakah ia sanggup bertahan. Namun setiap kali ragu datang, ia menggenggam surat tugasnya lebih erat, surat dari negara.
Sekolah tempat Lanang mengajar adalah sebuah SMP negeri di pesisir. Murid-muridnya sebagian besar anak nelayan. Mereka terbiasa membantu orang tua sejak subuh, mengangkat jaring, memperbaiki perahu, atau menjaga adik sebelum berangkat sekolah. Bagi mereka, sekolah sering kali berada di urutan kedua setelah bertahan hidup.
Hari pertama mengajar IPS menjadi hari yang tak terlupakan.
Lanang masuk ke kelas VII dengan peta Indonesia tua di tangannya. Warnanya pudar, ujungnya robek, dan beberapa pulau hampir tak terlihat. Ia menempelkannya di dinding yang catnya mengelupas.
“Anak-anak,” katanya pelan, “siapa yang tahu di mana posisi kampung kita di peta ini?”
Kelas hening. Tatapan murid-muridnya kosong, bukan karena bodoh, tetapi karena tak pernah benar-benar diajak merasa dekat dengan peta itu.
Seorang siswa akhirnya menjawab ragu,
“Jauh dari Jakarta, Pak.”
Lanang tersenyum, tapi hatinya tercekat.
“Tidak,” jawabnya lembut.
“Indonesia itu bukan soal jauh atau dekat. Indonesia itu tentang kita semua.”
Namun di balik suara tenangnya, Lanang menyimpan kegelisahan. Sebagai guru IPS, ia dituntut mengajarkan tentang pembangunan, keadilan sosial, dan persatuan sementara ketimpangan berdiri nyata di hadapannya. Ia lelah. Ia kesepian. Malam-malamnya sering diisi suara ombak dan rindu yang tak tahu harus dititipkan ke siapa.
Pernah suatu malam, saat hujan turun deras dan lampu padam, Lanang duduk sendirian di rumah dinas. Ia memandangi foto keluarganya di ponsel, lalu bertanya lirih, “Apa aku terlalu idealis?”
Namun pagi selalu datang, dan murid-murid selalu menunggu.
Hari demi hari, Lanang mulai mengubah caranya mengajar. Ia sadar, IPS tak bisa diajarkan hanya lewat buku yang terbatas. Maka ia mengajar dengan kehidupan.
Ia menjelaskan geografi dengan menunjuk laut yang membentang di depan sekolah.
Ia mengajarkan ekonomi dengan menghitung hasil tangkapan nelayan.
Ia mengajarkan sosiologi lewat gotong royong memperbaiki perahu.
Ia menanamkan nasionalisme bukan lewat slogan, melainkan rasa memiliki.
Setiap Senin, mereka tetap melaksanakan upacara. Lapangannya keras, tiang benderanya miring, seragam murid tak selalu lengkap. Namun saat Merah Putih perlahan naik, Lanang berdiri tegap. Dadanya bergetar.
“Bendera ini tidak hanya berkibar di kota besar,” katanya suatu pagi.
“Ia juga berkibar di sini, karena kalian adalah bagian dari Indonesia.”
Ada hari-hari ketika tubuh Lanang hampir menyerah. Demam, kelelahan, dan rindu datang bersamaan. Pernah ia hampir memutuskan pulang lebih awal. Namun suatu siang, setelah kelas usai, seorang murid mendekatinya.
“Pak Nang,” katanya sambil menunduk,
“sekarang saya tahu kenapa IPS penting. Saya jadi ngerti kenapa laut kita harus dijaga. Ini tanah air kita, ya Pak?”
Lanang terdiam. Kalimat sederhana itu menghancurkan semua keraguannya.
Sejak saat itu, ia mengajar dengan keyakinan baru. Murid-muridnya mulai berani bertanya, berdiskusi, dan bermimpi. Mereka tak lagi menganggap IPS sebagai pelajaran hafalan, melainkan cermin untuk melihat diri mereka sebagai bagian dari bangsa.
Di akhir semester, Lanang meminta mereka menggambar peta Indonesia. Hasilnya sederhana, banyak yang belum rapi. Tapi satu hal sama mereka selalu menggambar kampung mereka dengan ukuran besar, diwarnai penuh.
Sore itu, Lanang duduk sendiri di kelas kosong. Angin laut masuk perlahan. Lelah masih ada. Rindu belum hilang. Namun hatinya penuh.
Ia menulis di buku kecilnya: "Aku datang ke sini untuk mengajar IPS, tetapi justru di sinilah aku belajar tentang Indonesia. Pendidikan adalah cahaya ia menembus keterbatasan, menyatukan pusat dan pesisir, dan menjaga harapan bangsa tetap hidup".
Di sebuah SMP sederhana di pesisir Garut Selatan, seorang guru IPS bernama Lanang memilih bertahan. Dan di sana, jauh dari sorotan, nasionalisme tumbuh pelan-pelan di hati anak-anak yang suatu hari akan menjaga negeri ini.

Posting Komentar